Diabetes militus merupakan satu kata yang sering kita dengar pada umumnya di Indonesia. Iya, Diabetes Militus atau yang dikenal dengan DM ditandai naiknya gula darah (1) serta merupakan penyakit yang memiliki kemungkinan dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Orang-orang yang terdiagnosis DM dan keturunannya harus memperhatikan 4 pilar utama dalam mengontrol penyakitnya sendiri gunak mengelola kehidupannya. Salah satu dari empat pilar tersebut adalah manajemen nutrisi yang meliputi pola gizi guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penderita DM harus memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya. Berdasarkan data dari National Health and Nutrition Examination Survey makanan yang pada umumnya mempengaruhi pasien Diabetes Militus adalah makanan dengan zat berprotein dan berserat. Dari sumber jurnal yang saya temukan, konsumsi sereal pada pagi hari sebagai sarapan akan lebih baik jika dibandingkan dengan konsumsi telur bagi pasien Diabetes Militus. Yang dijadikan pembanding dari dua subjek ini adalah kadar proteinnya, dimana kadar protein pada sereal jauh lebih tinggi pada telur (2).
Mengapa protein yang tinggi baik untuk penderita DM? Penderita DM mengelurakan banyak nitrogen dalam urin karena adanya peningkatan konversi protein ke glukosa untuk pemenuhan glukosa. Resiko kekurangan protein inilah yang mungkin terjadi pada penderita DM sehingga membutuhkan jumlah protein yang lebih tinggi dari individu yang tidak tersdiagnosa DM.
Dalam pemilihan protein juga harus diselektif untuk memilih protein yang rendah lemak. Hindari makanan yang tinggi protein dengan tinggi lemak karena pola makanan rendah serat, tinggi kalori dan lemak mengakibatkan terganggunya metabolisme dan komposisi tubuh (3).
Selain tinggi protein, tinggi serat juga sangat baik untuk penderita DM. Karena di dalam usus besar, serat dapat difermentasikan oleh bakteri kolon yang dapat menghambar pergerakan asam lemak dan mengurangi glukoneogenesus yang berpengaruh pada penderita DM. (4)
Jadi, ayo konsumsi makanan tinggi protein dan tinggi serat namun rendah lemak dan rendah kalori!
(1) Wahyu
Widoyowati. Potensi Antioksidan sebagai Antidiabetes. JKM. Februari
2008;Vol.7;No.2.
(2) Brooke
E. Bayham, Frank L. Greenway, William D. Johnson, Nikhil V Dhurandhar. A
randomized trial to manipulate the quality instead of quantity of dietary
protein to influence the markers of satiety. Journal of Diabetes and Its
Complications. 2014;28;547-552.
(3) Pande
Putu Sri Sugiani. Status gizi dan status metabolik pasien diabetes militus
rawat jalan di RSUP Sanglah Denpasar Jurnal Ilmu Gizi. Februari
2011;Vol.2;49-57
(4) Clara
M. Kusharto. SERAT MAKANAN DAN PERANANNYA BAGI KESEHATAN (Dietary Fiber and Its
Rale for Health) Jurnal Gizi dan Pangan.
2006;Vol.2;45-54
Tidak ada komentar:
Posting Komentar